13.9.13

Hikayat Keseimbangan Hidup

Hikayat Keseimbangan Hidup
Saya seorang lelaki yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang istri serta dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil dengan mengontrak sebuah rumah petakan dipinggiran kota, dengan jumlah tanggungan tersebut membuat saya harus banting tulang tuk menghidupi keluarga saya, maklum saja saya dari keluarga yang ekonominya paspasan dan cenderung kekurangan, dengan pendidikan yang pas-pasan pula. Sehari-hari saya bekerja sebagai buruh serabutan, artinya jelas penghasilan saya tidak menentu kadang ada bahkan terkadang sama sekali kosong. Suatu hari dimana saya selesai melaksanakan shalat dzuhur disebuah masjid saya dihampiri seorang jemaah, siang itu entah mengapa saya ingin sekali menginjakkan kaki ini kedalam rumah Tuhan, setelah beberapa tahun kepala ini hampir tidak pernah bersujud pada-NYA.

Ahhh… bodohnya saya, karena saya lupa menanyakan nama beliau, hanya wajahnya saja dengan dengan sinar matanya yang selalu terlihat memberikan ketenangan selalu saja membekas dalam ingatan saya. Setelah beliau menyapa dan bertutur sapa, nyaris tak pernah hilang dalan ingatan dan serasa selalu segar apa-apa yang pernah diucapkannya, tutur katanya begitu menyentuh sanubari saya, siang itu seolah saya baru terbangun dari tidur panjang, guratan derita serta beban yang selalu tergores dalam raut wajah ini seakan terbaca jelas olehnya.

Memang tak dapat saya pungkiri, serapih apapun saya menyembunyikan guratan beban diwajah ini masih saja tetap terlihat, bahkan dalam pulasnya saya tidur. Uang bukanlah segalanya, tetapi juga hidup di dunia ini tidak gratis, bahkan ketika mati pun masih membutuhkan biaya.

Dunia ini pana, hidup hanya akan bertahan beberapa puluh tahun saja, selebihnya kampong akhiratlah tempat sebenar-benarnya pemberhentian terakhir. Carilah keseimbangan diantara keduanya….

Keseimbangann antara derita dan kesenangann adalah do’a, inilah yang akan mengantarkan pada manisnya hidup baik di dunia maupun kelak di akhirat. Do’a adalah sholat dan sholat adalah sebaik-baik memohon pertolongan pada-NYA.

Saya terdiam,merenung jauh kebelakang kebeberapa tahun yang telah terlewat, semoga pintu Taubat masih terbuka untuk saya, diambang usia yang telah senja ini. Diantara segunung ke khawatiran saya dicelah bibir jurang yang curam ini, kalimat demi kalimat terurai dari bibirnya. Santun berkata dan laksana embun nan sejuk , yang dipercikan kedalam kalbu saya. Bahwa sanya ketenangan hati tidak dapat diukur dari segi materi, melainkan dengan mengingat dan selalu berdzikir padaNYA hati akan terasa damai dan tentram. Tuhan tak akan membiarkan hamba yang dicintainya menderita, yakinlah akan pertolongan Allah SWT.

Siang itu mata hati saya terbuka, sujud syukur saya haturkan atas hidayah yang telah sampai kepada saya, melalui perantara seorang hamba Allah, yang lagi-lagi karena kebodohan saya hingga saya lupa menanyakan namanya. Sekarang saya sadar, dengan menjalankan keseimbangan antara duniawi dan akhirat membuat hidup ini lebih berarti. Rezeki sudah diatur seadil mungkin oleh Tuhan, janganlah kita terlalu memaksakan diri mengejarnya, karena jika memang sudah Milik dia tak akan lari walau hanya sejengkal pun.

Kisah ini diambil dari seorang teman, semoga dapat menginspirasi kita semua, bahwa dalam situasi sesulit apapun, percayalah pertolongan Allah SWT Tuhan pencipta semesta alam ini, benar dan nyata adanya.

→ About the author

Moch Adnan adalah Admin Blog yang mempunyai ketertarikan dengan Dunia Blogging,kamu bisa Menemukan saya dan memfollow saya di Google + Twitter Facebook


Terima Kasih Telah Membaca Artikel Hikayat Keseimbangan Hidup . Jika Anda tertarik dengan artikel seperti ini, silahkan untuk berlangganan artikel Gratis dengan cara mengetikkan alamat e-mail anda pada kotak berlangganan berikut:
Subscribe via Email

Silahkan tinggalkan komentarnya
Mohon untuk tidak memasukkan link hidup dalam berkomentar